Januari 22, 2011

Model Pembelajaran Tematik Pada Pelajaran Matematika

Posted in Model Pembelajaran at 8:42 am oleh yeniantary

Peserta didik kelas I, II, dan III merupakan subjek yang perlu mendapatkan perhatian sejak dini. Usia mereka berada pada rentangan usia enam sampai dengan sembilan tahun. Pada fase usia ini hampir seluruh aspek perkembangan kecerdasan, misalnya IQ, EQ, dan SQ sedang bertumbuh dan berkembang. Biasanya tingkat perkembangan pada anak tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh (holistik) dan hanya mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Begitu pula dalam proses pembelajaran, umumnya mereka masih bergantung pada objek-objek yang bersifat konkret dan pengalaman yang dialaminya secara langsung (secara empiris).

Suatu permasalahan pada diri siswa apabila tingkat pemahaman siswa terhadap suatu konsep tidak terjadi secara utuh. Materi pelajaran yang disampaikan guru kurang tepat sasaran sehingga tema-tema dalam pembelajaran menjadi terpecah-pecah. Anak belum mampu memilah secara tegas pengetahuan matematika, bahasa, sosial, dan lain-lain. Semua pengetahuan tersebut masih dipahami secara utuh atau global. Ketika mata pelajaran itu disajikan secara terpisah-pisah, anak mengalami kesulitan. Artinya, anak belum mampu berpikir tentang sesuatu konsep tanpa melihat benda konkret. Misalnya, anak akan kesulitan memahami konsep tentang kuda tanpa ada benda kuda atau gambar kuda. Karena itu, kontekstualisasi antara taraf berpikir anak dengan kehidupan anak sehari-hari menjadi sangat penting. Kesulitan peserta didik dalam memahami pelajaran akan kian bertambah jika tema yang diberikan kurang dipahami dengan baik. Secara perlahan mereka akan frustrasi hingga akhirnya ia akan tinggal kelas. Ini disebabkan peserta didik kurang mampu mengikuti proses pembelajaran. Data awal mengansumsikan bahwa angka mengulang dan putus sekolah pada siswa kelas I lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang lain (II, III, IV, V, dan VI). Berdasarkan data yang diperoleh dari Depdiknas (2006:1) bahwa angka mengulang dan putus sekolah siswa kelas I sampai dengan kelas III pada tahun 1999/2000 memiliki perbandingan yang cukup signifikan. Angka mengulang untuk siswa kelas I adalah 11,6%, siswa kelas II adalah 7,51%, kelas III adalah 6,13%, siswa kelas IV adalah 4,64%, siswa kelas V adalah 3,1%, dan siswa kelas VI adalah 0,37%. Jika dibandingkan dengan angka putus sekolah siswa kelas I jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan siswa kelas II. Pada siswa kelas I angka putus sekolah diketahui 4,22%, siswa kelas II adalah 0,83%, siswa kelas III adalah 2,27%, siswa kelas IV adalah 2,71%, siswa kelas V adalah 3,79%, dan siswa kelas VI adalah 1,78%.

Berdasarkan permasalahan tersebut menggambarkan bahwa kesiapan sekolah untuk mengantarkan peserta didik kelas awal (I s.d. III) sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang telah masuk Taman Kanak-Kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan Taman Kanak-Kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas satu dan dua Sekolah Dasar dengan pendidikan pra-sekolah dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.

Dalam rangka mengimplementasikan standar Isi yang termaktub di dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP) Indonesia, maka pembelajaran yang akan diterapkan pada siswa kelas I s.d. III Sekolah Dasar lebih cocok jika dikelola dalam model pembelajaran terpadu. Pelaksanaan model pembelajaran terpadu ini dapat dilakukan melalui pendekatan pembelajaran tematik.

PEMBELAJARAN TEMATIK merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan pada siswa kelas rendah (yaitu: siswa kelas I, II dan III) di Sekolah Dasar. Konsep pembelajaran tematik telah tercantum di dalam KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan). Di dalam KTSP tersebut dijelaskan bahwa pembelajaran tematik adalah pendekatan yang harus digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Oleh karena itu, guru perlu mempelajarinya terlebih dahulu sehingga dapat memperoleh pemahaman baik secara konseptual maupun praktikal (Sukayati, 2004:8).

Menurut Siskandar (2003:45) bagi guru SD kelas rendah (kelas I, II, dan III) yang peserta didiknya masih berperilaku dan berpikir konkret, pembelajaran sebaiknya dirancang secara terpadu dengan menggunakan tema sebagai pemersatu kegiatan pembelajaran. Dengan cara ini maka pembelajaran untuk siswa kelas I, II, dan III menjadi lebih bermakna, lebih utuh dan sangat kontekstual dengan dunia anak-anak. Menerapkan pembelajaran tematik pada mata pelajaran Matematika. Dengan menerapkan pembelajaran tematik pada mata pelajaran Matematika diharapkan peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Pembelajaran Matematika dapat dikemas dengan tema atau topik. Misalnya tema lingkungan dapat dibahas dari sudut Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS.

Beberapa atau sebagian besar peserta didik belum mampu mengikuti proses pembelajaran secara optimal. Selama proses pembelajaran, potensi para siswa kurang diberdayakan sehingga sebagian besar siswa belum mampu mencapai kompetensi individual yang diperlukan untuk mengikuti pelajaran lanjutan. Beberapa siswa belum belajar sampai pada tingkat pemahaman. Siswa belum mampu mempelajari (baca: menghafal) fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan gagasan inovatif lainnya pada tingkat ingatan, peserta didik belum dapat menggunakan dan menerapkannya secara efektif dalam pemecahan masalah sehari-hari yang kontekstual. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas selama ini masih menggunakan proses pembelajaran konvensional, belum mengarah kepada pembelajaran tematik. Tema-tema yang dipelajari siswa masih terpecah-pecah..

Guru yang akan mengajarkan pembelajaran tematik pada peserta didik kelas awal (di kelas III) sebaiknya disertai dengan penekanan pemberian tugas dan mengaitkan materi pelajaran dengan pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik. Kepala sekolah, diharapkan memberikan fasilitas pendukung dalam memberikan pembelajaran tematik seperti melangkapi pembelajaran dengan alat peraga (media pembelajaran) serta memanfaatkan sumber belajar yang ada di sekolah. Kepada pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Komering Ilir hendaknya memberikan fasilitas pendukung dalam melaksanakan pembelajaran tematik yaitu dengan melengkapi sumber pustaka atau buku-buku penunjang dalam melaksanakan pembelajaran tematik pada kelas awal.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: